Universitas Muhammadiyah Cileungsi

Universitas Muhammadiyah Cileungsi

Melihat Geliat Cepat Kampus Perancis di Tengah Perubahan

Oleh: Verry Surya Hendrawan

Brikut adalah catatan singkat Penulis yang berkesempatan melakukan kegiatan riset kolaborasi dengan akademisi CESI (CESI : College engineering school and Master Degree), sebuah universitas di Perancis dengan jaringan 25 kampus dan +/- 28,000 mahasiswa yang tersebar di seluruh Negeri Ayam Jantan (Le Coq Gaulois) ini. Kegiatan offline di negeri yang dikenal dengan Menara Eiffel ini merupakan lanjutan dari rangkaian kegiatan online yang telah dilakukan sebelumnya.

Pada periode 2 pekan terakhir April 2026 lalu, Penulis mengikuti berbagai kegiatan yang disusun dengan jadwal yang padat. Rangkaian workshop, pola pembelajaran di dalam ruangan, kelas laboratorium, serta diskusi dengan berbagai akademisi pakar di berbagai bidang, utamanya terkait artificial intelligence, supply chain, robotics, ERP, IoT, dan mechanical engineering.

Dalam catatan Penulis, semuanya bermuara pada 1 hal: bahwa teknologi digital maju telah mengambil alih sebagian peran manusia di banyak bidang. Sebagai contoh: industri manufaktur dengan konsep “dark factory” yang juga dikembangkan di kampus ini. Sungguh menjadi catatan yang menarik, mengingat bahwa “Jidoka” yang diinisiasi oleh Sakichi Toyoda (pendiri Toyota) pada tahun 1896, saat ini telah berkembang sedemikian pesat dengan berbagai lompatan-lompatan yang luar biasa.

Jidoka” dengan 3 konsep utama: autonomasi, deteksi segera, dan pemberhentian otomatis ini, telah jauh berkembang pesat dengan tambahan berbagai kemampuan sistem untuk melakukan data analytics, prediction, dan memberikan solusi terbaik untuk permasalahan yang sedang (atau bahkan yang akan) terjadi—tanpa campur tangan manusia sedikitpun! Semuanya otomatis bergerak, hingga dalam 7×24 jam tanpa jeda.

Namun dibalik itu semua; yang lebih menarik lagi adalah bagaimana kampus CESI ini merespon terhadap perubahan diatas. Dengan cerdas, kampus ini melakukan pola pembelajaran yang “berbeda” dengan berbagai kampus lainnya—demi menghasilkan lulusan yang benar-benar siap untuk terjun langsung ke industri. Bagaimana caranya? Setidaknya Penulis mencatat 3 hal. Pertama, bahwa CESI melakukan pola belajar-mengajar berbentuk “pendampingan”. Artinya, Dosen bertugas untuk mendampingi Mahasiswa/i dalam menyelesaikan permasalahan riil di industri. Sangat minim terjadi pola belajar-mengajar “tradisional”, dimana Dosen memberikan materi di depan kelas dan Mahasiswa menyimak—sebagaimana pola Pendidikan konvensional yang lazim.

Kedua, permasalahan riil di industri yang diselesaikan adalah berasal dari berbagai industri yang memang “menitipkan” isu-isu yang muncul untuk dapat diselesaikan oleh kampus. Dengan demikian, kedua belah pihak memperoleh manfaat nyata. Kampus memperoleh “use case” yang sesungguhnya (dan terbaru) dari dunia industri. Di sisi lain, industri juga mendapatkan solusi terbaik secara akademik dan praktik, yang dapat langsung diterapkan secara cepat dan efisien.

Ketiga, Mahasiswa harus mandiri. Mereka memiliki kewajiban untuk “melahap” berbagai buku referensi/buku panduan, membaca berbagai artikel ilmiah, dan berselancar di dunia maya dengan menggunakan berbagai Generative AI seperti: ChatGPT, Claude, Perplexity AI dll. Kemudian, Mahasiswa wajib membuat ringkasan dan mampu memberikan presentasi formal di depan forum terkait topik yang telah dipelajari secara mandiri tersebut. Berbagai pertanyaan, kritisi, koreksi akan muncul dari audience, yang terdiri dari para Mahasiswa dan sekaligus Dosen. Budaya Akademik beragumentasi dan diskusi ilmiah ini merupakan salah satu soft skill Mahasiswa yang terus dikembangkan.

Selain ketiga hal diatas, terdapat satu fakta lain yang memungkinkan dibangunnya environment yang ideal berupa kolaborasi antara industri dan kampus. Fakta tersebut adalah: industri mendukung penuh CESI melalui dukungan penyediaan laboratorium dan berbagai perlengkapan penunjangnya. Penulis dapat dengan mudah menemukan misalnya: laboratorium Cyber-Physical Production Systems (CPPS), Industrial Robotics & IoT, Digital Twins, Metaverse, yang dilengkapi diantaranya dengan 3D Printer, Laser Cutter, Reverse Engineering, dll. Sungguh merupakan suatu “kemewahan” tersendiri untuk memiliki “small factories” di kampus, mengingat misalnya hanya untuk Laboratorium Metaverse setidaknya dibutuhkan investasi minimal sebesar USD 350,000 atau lebih dari 6 milyar rupiah!

Harus diakui bahwa kita tertinggal dalam banyak aspek. Namun bukan berarti kita tidak memiliki kesempatan untuk mengejar dan bahkan melampaui berbagai pencapaian diatas. Penulis meyakini bahwa dalam 2-3 generasi mendatang, Indonesia akan lebih baik. Syaratnya: mari konsisten melakukan kebaikan dan perbaikan; mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang, dan mulai dari hal yang sederhana. Penulis mengajak kita untuk misalnya: meningkatkan pemahaman dan pengetahuan terkait pemanfaatan teknologi digital maju, khususnya AI demi mendukung berbagai aktifitas kita dalam dunia akademis. Kemudian, tentunya juga mendorong untuk lebih menguatkan keterampilan soft skills, utamanya Communication, Problem Solving & Adaptability, Leadership & Management, dan Teamwork. Serta tak kalah pentingnya adalah: meningkatkan kemampuan berbahasa asing. Selamat berkarya!

Verry Surya Hendrawan

Dosen Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Cileungsi

Kandidat Doktor Teknik Industri Pertanian, IPB University